Biografi Penulis


SOFLIANTI INSYROH


Namaku Soflianti Insyroh. Itulah nama yang diberikan kedua orang tuaku pada seorang bayi merah yang lahir pada 21 Januari 2003. Aku biasa di panggil Sofli atau Lian oleh orang- orang di sekitarku. Papah seorang karyawan swasta yang bernama Tri Waryanto. Mamah bernama Manisah yang setiap hari mengurus urusan rumah tangga.

Aku adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Aku lahir dan dibesarkan di Kota Kembang.

Tempat itu menyimpan berjuta cerita tentang ku dan kehidupan ku. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Meskipun sederhana tetapi kebutuhan hidupku selalu terpenuhi.

Aku masuk sekolah dasar ketika berusia enam 6 tahun, yakni pada tahun 2009 di SDN Cibeureum Mandiri 2. Jarak antara rumah dengan sekolah sangat dekat. Setiap paginya, temanku selalu menunggu ku di depan rumah dengan memanggil “Lian..an...an..an...”.

Aku bukan sosok murid yang tergolong pandai, bahkan aku adalah murid yang mempunyai kemampuan rata- rata. Namun beruntung nya, papah dan mamah selalu mendukung dan mengajari ku,sampai akhirnya pertama kali aku mendapat peringkat ke 3 saat aku duduk dikelas 3,dan kemampuanku pun semakin bertambah. Di sekolah dasar aku pernah menjadi juara 1 tingkat provinsi lomba cerdas cermat PAI,bahkan karna lomba ini aku dapat masuk sekolah menengah pertama yang aku impikan yaitu SMPN 6 Cimahi pada tahun 2015.

Satu hal yang tak pernah ku duga sebelumnya terjadi di hari kelulusan ku. Aku di panggil naik ke panggung untuk mendapatkan piagam penghargaan sebagai siswa dengan nilai terbaik pertama. Semua ini adalah karena do’a dari kedua orang tuaku yang tak pernah berhenti mendoakan aku.

Setelah lulus sekolah dasar, aku melanjutkan sekolah menengah yang jauh dari rumahku. Setelah masuk di sekolah menengah, aku mulai menyukai bidang olah raga Taekwondo, aku mulai menekuni olahraga tersebut. Aku pernah meraih mendali perak pada kejuaraan Taekwondo antar kota.

Tetapi ketika aku naik kelas 8,aku berhenti melanjutkan Taekwondo karna kelelahan dan juga sering sakit. Di sekolah menengah aku pernah menjadi juara umum ke 2 satu sekolah dan juga pernah menjuarai perlombaan paskibra se-Kota Cimahi. Masa–masa sekolah menengah memang sangat menyenangkan,aku mendapatkan pengalaman baru dan kisah kisah yang baru aku rasakan.

Dan di sekolah menengah ini aku mendapatkan 10 sahabat baru yang sampai saat ini masih sangat dekat,tetapi sayangnya salah satu dari mereka berpindah ke Indramayu.

Setelah lulus, aku melanjutkan di SMAN 6 Cimahi. Aku selalu diantarkan jika ingin berangkat sekolah dan naik ojek jika pulang sekolah.

Saat ini aku duduk di kelas 10,di SMA sangat melelahkan sekali. Masuk sekolah pukul 06.45 dan pulang pukul 15.00,belum lagi jika ada tugas individu ataupun kelompok. Memang sangat melelahkan,tapi bagaimana lagi namanya juga anak sekolah.



DWI AGUSTINA


Namanya Dwi Agustina. Lahir pada hari Jum’at 29 Agustus 2003 bertempatan di Cimahi. Ceritanya agak sedikit greget karena dia lahir di dekat perbatasan Bandung-Cimahi. Dan bidan yang dijadikan tempat lahirannya berada di Cimahi yang hanya melangkah sekiranya empat langkah lagi menuju Bandung, padahal aslinya dia tinggal di Bandung. Oke, tidak apa. Lupakan soal tempat lahir.

Seperti yang kalian lihat pasti langsung terlintas bahwa namanya sangat pasaran, memang. Karena dia lahir sebagai anak kedua, bulan Agustus pula. Nama kakaknya pasti Eka atau Ika deh. Bagi yang berpikir demikian, maka 101. Kalian hebat, karenanya nyatanya nama Kakak dia bernama Ika. Yeaaay. Serius, Biografi ini tak memiliki tujuan, because, nothing special dari human satu ini.

Cita-citanya waktu SD adalah jadi guru atau dokter. Pas SMP, eh malah pengin jadi pemain alat musik atau dosen. Dan sekarang? Jadi penulis dan psikolog! Oh iya, motto hidupnya adalah banyak. Tapi salah satunya yaitu “Tulislah hatimu yang bungkam pada sepatah pena untuk sebuah aksara rasa.” Motivasi baginya yang tak mampu mencurahkan rasa. Dia mengenal dunia menulis mungkin dari sd, karena sudah pasti setiap hari ia menulis untuk tugas di sekolah ataupun lainnya. Namun untuk dunia kepenulisan, ia baru menggelutinya pada tingkat SMP kelas 9.  Cita-citanya tak lain adalah melihat nama penanya tertera di dalam sebuah benda berbentuk persegi panjang, terdapat lembaran kertas berisi sebuah kata yang menyusun jadi kalimat dan menyatu lagi menjadi paragraf kemudian berkembang menjadi sebuah cerita. Tak lupa juga, dibawah buku tersebut berlambangkan logo berhuruf “G” dengan sebuah tambahan kata “Best Seller” yang bertengger indah dibagian cover.

 Menulis adalah hal yang tak perlu membuatnya ribet soal hidup. Karena terkadang semua hal yang tak mampu ia lakukan,bisa ia wujudkan dalam dimensi dunia lain. Setidaknya ia menulis menggunakan hati, dan rasanya pun akan terbawa pada hal yang nyatanya semu. Tak mengapa, yang penting ia bahagia, walau mungkin sementara karena hidup yang nyata takkan bisa dihindari.

 Ayo mengenal lebih lanjut dengan sang human diatas melalui akun media sosialnya(meskipun gak ada yang spesial disana, posting aja jarang, tapi gak ada salahnya silaturahmi,) ig: instagram.com//dwinaa._ dan wattpad; wattpad.com//dieieloo



SALSABILA FEBRIANA



Nama saya Salsabila Febriana, saya lahir di cimahi 24februari 2003, saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara.  Kaka pertama saya bernama Riki Dwi Riyadi dan kaka kedua saya bernama Rafli Oktafiali kedua kaka saya sudah bekerja.


Semasa kecil saya ditinggalkan oleh ibu saya dikarenakan mungkin perekonomian entah memang mereka sudah tidak cocok, saya dari kecil hingga menjadi dewasa seperti ini berkat ayah, ayah saya membesarkan saya dengan sekuat tenaga,hingga pada saya kecil dulu memasukin sd saya diantar jemput oleh ayah saya, hingga smp pun saya masih diantar oleh ayah saya, hingga pada akhirnya saya terbiasa tanpa ibu, pada suatu itupun ibu saya datang kebandung saya merasa asing sebenarnya karna apa? Karna saya dari kecil hingga sebesar ini saya diasuh oleh ayah saya tetapi saya tidak marah pada ibu saya semarah apapun saya pada ibu saya, saya harus tetap menghormati dan menghargai orang yang telah melahirkan saya tetapi saya lebih dekat dengan ayah ketimbang dengan ibu hingga pada kejadian dimana ayah saya berkata"kini putri kecil ayah sudah menjadi gadis cantik"dan ayah saya pun memberi pesan BANGGAKANLAH AYAH SEPERTI AYAH BANGGA PADA DIRI AYAH hinga pada akhirnya saya bernekad ingin mewujudkan cita cita saya dan saya belajar giat untuk membanggakan ayah saya, dan saya juga berniat ingin membangun rumah untuk ayah saya.

Comments